aku memilih jalan untuk menjadi seorang penulis, dan belajar lebih giat tentang bagaimanan menghasilkan tulisan indah dan berbobot adalah keharusan dari jalan yang ku pilih itu, jalan ini lantas meninggalkan konsequensi yang harus ku emban yaitu berlatih menulis, menulis dan menulis. walau baru anak ingusan dlam dunia ini, tapi kekaguman ku kepada mereka yang melahirkan karya yang yang menyisihir banyak orang begitu mengagumkan dimataku, itulah yang selalu membuatku tertarik dengan dunia ini, dunia menulis, bermain dnegan kata, menjadi cerita biasa bisa di baca dengan nyata dan penuh rasa.
minggu terakhir ini, aku tenggelam pada manisnya novel A. fuadi, seorang novelis ternama asal kampung ku sumatera barat. karyanya tidak hanya membuat urat urat sarafku mengendor dari berbagai rutinitas yang menegangkan tapi juga mampu membuat emosi perjuangan meledak bagaikan "bigbang". menikmati perjalanannya menemukan apa yang ia inginkan di tengah ketiddak pastian, ia mengikrarkan diri untuk bekerj keras dan belajar dengan seepenuh hati, menggunakan kekuatan hati yang super ia menerjang segala hambatan dan segala ketidak mungkinan untuk di ubah menjadi sesuatu yang sangat wajar untuk ia terima. saat semua prestasi ia raih dan semua tawaran pekerjaan yang tinggi merendah di hadapan nya, aku yakin itu adalah buah perjuangannya yang berdarah darah dalam mewujukan keinginnanya. seperti yang di sampaikan A. fuadi dalam novelnya dengan nada penuh percay diri" pantaslah aku lebih beruntung dari pada kalian, karena aku telah mengorbankan segala kesenangan kesenangan sementara ku untuk kebuntungan ini" ungakapan sederhana, tapi membuat mulutku yang kerap kali mengeluh kenapa begini dan bgeitu nasibku seolah terkunci dan "skak mat".
benar sekali 1000 persen benar apa yng di katakan "alif" tokoh yang di ceritakan A. fuadi dalam novelnya. bahwa kebuntungan hanyalah untuk mereka yang pantas, atau mereka yang memantaska diri di depan tuhan untuk semua keberuntungan itu. lebih tepatnya dalam hukum dunia yang kauslita ini, hasil adalah buah dari usaha, dan keberhasilan mencapai semua keinginan kita dalam hidup adalah buah dari usaha yang kita tumpahkan untuk semua encapaian itu. oleh kerena itu " besarnya hasil yang di dapat berbanding lurus dengan besarnya usaha yang kita lakukan + strategi dalam mendapatkannya.
dengan ikut mengunakan mantra yang sering di senandungkan "alif" dalam perjalanannya,"man jadda wajada" siapa yang bersungguh sungguh akan berhasil. dan "man shabara zhafira" siapa yang bersabar akan beruntung" terakhir ia sematkan" siapa yang berjalan dijalanya pasti akan sampai". semoga ketiga mantra ini menjadi mantra sukses juga buat semua mimpi mimpi yang tengah mengawang itu.
Dalam catatan yang tidak beraturan ini saya berbagi cerita, pengalaman,dan apa saja yang mungkin bisa bermanfaat untuk di tuliskan, apakah itu untuk saya sendiri atau orang lain.
Rabu, 03 Juli 2013
Rabu, 26 Juni 2013
BAPAK IBUKU KATOLIK
“Pak, saya sholat dulu ya!”, ungkapku,
“Ndok, besok saya dan ibu ke gereja ya!”
Kata bapak kepadaku.
Begitu lah
dialog yang sering terjadi di rumah ini, tiga orang yang berbeda keyakinan
hidup di bawah satu atap setiap harinya. Aku dan kedua orang tua ini berbeda keyakinan,
mereka meyakini Yesus sebagai tuhan nya sedangkan aku tidak. Tapi kebersamaan
kami terjalin begitu akrab dan dekat, bagiku pak Murtaya adalah orang tuaku
selama di perantauan ini. Pak Murtaya sebenarnya adalah kepala sekolah SDN 02
Serdang kuring. Kepala sekolah ku selama dinas di kecamatan bahuga, waykanan
lampung. Mengenal pak Murtaya dan
keluarga, membuat paradigmaku terhadap nusantara ini semakin mengesankan,
betapa tidak, Dirumah ini, rumah bapak dan ibu angkatku, akumerasa begitu
dihargai, perbedaan bagi kami adalah suatu yang sangat lumrah. Sebagai seorang
muslim aku sangat tau bahwa orang tua angkatku ini katolik. Walau tuhan kami
berbeda, akan tetapi tak sedikitpun mengubah cara pak murtoyo menghormati dan
menghargai privasiku sebagai muslim, seringkali pak murtaya atau ibu
mengingatkan ku saat azan sudah berkumandang.
Saat itu, di suatu malam menjelang
sholat isya, aku, bapak, dan ibu Murtoyo, tengah menikmati layar kaca dengan
sajian drama nya, sambil menikmati makanan dan segelas mie instan di tangan ku,
kami bertiga melanjutkan perbincangan kecil kami tenatng budaya dan kabiasaan
masing masing. Memang perbedaan kami cukup lebar, mereka berasal dari daerah keratin jogya, sedangkan
aku dari minangkabau. Tidak hanya keyakinan saja yang berwarna, kebuadayaan
yang kami milikipun berlainan.
Sederhana memang, perbincangan dimuali dari
pertanyaan tentang budaya di daerah masing- masing, terkadang kami terlibat
diskusi kecil sebagai komentator acara televisi, tentang tetangga-tetangga dan
banyak lainya yang kutanya kepada mereka seputar desa dan kampung baru ku ini.
lagakku seperti wartawan yang tengah investigasi saja, bertanya tentang ini dan
itu kepada keduanya. Disitulah berawal keakraban kami, ternyata pak Murtaya
adalah seorang yang memiliki hobi
sewarna dengan ku, sehingga dengan semangat dan antusias bapak dan ibu menjawab
pertanyaan- pertanyaanku yang mendarat kepada nya, sampai sampai perbincangan
kami merembes kepada memperbincangakan agama masing- masing.
Seperti halnya diskusi dalam sebuah kelas kaum
intelektual saja pak Murtoyo bertanya tentang islam kepadaku, meneggarai rasa
ingin tahunya tentang islam dan keingintauanku tentang keberagamaan mereka
membuat kami menghabiskan waktu hampir dua jam dalam dialog itu. jangan
membayangkan dialog ini sebagai tawar menawar keyakinan, bagiku dan yang ku
jalani hanyalah sebatas diskusi lepas tentang bagaimana aku dan mereka. Kenapa katolik begini dan kenapa Muslim itu
begitu. Benar benar hanyalah sebuah diskusi yang lebih mengarah kepada
meluruskan pandangan orang tentang keyakinan masing masing. Dalam diskusi kami
yang berapi api itu, Pak Murtoyo tentu memiliki pandangan sendiri tentang
Muslim, dan sebaliknya, akupun meiliki padangan yang subjektif tentang agama
katolik.
Detik demi detik berputar sampai tak terasa olehku,
mendengar cerita pak Muroyo dalam diskusi malam itu, menyadarkan ku betapa
indonesai itu damai. Keberadaanku tinggal dirumah mereka yang katolik disambut
dengan baik tak sdikitpun berbeda dengan yang lain, begitu pula rasa hormatku
kepada mereka, keyakinan mereka tak mengurungkan niat ini untuk menghargai
merek sebagaimana orang tua sendiri. aku
tersentak perbedaan tak akan menjadi pemisah selama kita ttap terfokus kepada persamaan
yang juga membentan luas di bumi pertiwi Indonesia, layaknya kebersamaan ku
yang tetap damai di rumah Pak Murtoyo.
Bebas,. Inilah hidupku kawan.
Love allah, aku meneriakan kata
kata itu didalam hati sembari memejamkan mata menangkap semua pencitraan alam
yang memenuhi rongga retina ku sepanjang jalan gumawan ke baradatu. Ku hirup
dalam dalam nafas panjang menyimpan udara kebebasan dan kecintaan akan
pekerjaan sebagai seorang guru di pedalaman lampung, tepatnya di kecamatan
bahuga, pemandangan hijau persawahan dan hutan karet berubah bagaikan surga
dengan kedamaian yang hadir di dalam hati.
Perjalanan 21 KM, itu di penuhi
dengan sawah dan perkebunan, yang berjejer di perbatasan provinsi lampung dan
Sumatra selatan. Cahaya lembut pagi hari yang menerpa wajah ku terasa begitu
ramah tersenyum mengucapkan selamat berbahagia untuk seorang petualang
sepertiku. Melakoni peran sebagai guru, di daerah kepedalaman sembari menjalani
aktifitas fasilitator di masyarakat desa serdang kuring, benar benar menjadi
satu kehidupan bagiku, layaknya ikan yang telah lama merindukan kolam dan
lautan untuk mengarungi dengan sirip kecilnya, begitulah aku, mengaruingi
pertualangan di desa ini.
5-6 jam, perjalanan yang harus ku
tempuh selama bolak balik ke kota baradatu, kota pusat kecamatan tempat aku dan
teman teman merampungkan program bulanan yang menjadi agenda kelompok kami,
pertemuan satu kali sebulan ini menjadi agenda wajibku dan rekan rekan
seperjuangan di way kanan lampung. Pertemuan yang tidak hanya berbincang bicang
tentang kegiatan akan datang tetapi menjadi ajang untuk curhat dan berbagi.
Perjalanan panjang dan melelahkan
itu, sedikitpun tak membebani pikran ku, yang ada hanyalah senyuman, aku ingin
meneriakan, merdeka,,,merdeka,,merdeka,,,inilah kehidupan ku yang sesungguhnya.
Ini yang kusebut dengan hidup dan kehidupan.
Aku ingin terbang, melintasi
awan, menemui wajah wajah baru, melihat senyuman dan menggapai bintang bintang
dengan caraku, caraseorang petualang.
aku menikmati perjalanan panjang
berjam jam itu dengan senyum kepuasan, pikiran ku seolah olah tak sesak lagi,
hati ini rasanya ingin berlari, seperti tengah ada di padang savana nan luas
tak berbatas, hanya lagit yang hadir menudunginya.
Tak akan mampu kuukirkan kawan,
perjuangan, senyuman, keinginan berbagi bersama orang-orang di penempatan
terasa begitu lengkap. Ya sekali lagi
inilah kehidupan kawan.
Bahuga, desa serdang kuring, yang
dihuni mayoritas penduduk transmigrasi dari pulau jawa wonogiri. Sumatera yang
bergula jawa, seperti kain tapis nan bercorak batik. Begitulah
nuansa kentalnya kultur jawa di tanah tapis ini. benar benar diluar dugaan
perjalanan dan kehidupan di lampung, memberikan realita yang jauh dari
visualisasi ku sebelumnya. Aku tak berfikir ini tanah lampung, melainkan pulau
jawa.
Aku memang sedang menikmati sensasi dari perjalanan dan
pertualangan ini. tak pedui lumpur jalanan, tak ayal hutan Karet dan
perkebunan, tak memikirkan batu jalanan dan bendungan, tak mau tau dengan
kesepian disini, semuanya menyatu menjadi adonan kepuasan dan kebahagiaan.
Banyak, dan memang tak sedikit
yang memandang pilihan untuk masuk kepedalaman ini sebagai langkah tak berarah,
seolah takada pekerjaan lain, atau keterpaksaan mencari penghidupan di kota
yang mulai menyusut, komentar mereka beragam, dan mengkalkulasikan dengan
fasilitas yang ku tinggalkan. Aku tak peduli. Biarlah mereka dengan
komentarnya, tapi ini adalah kehidupan buatku.
Begitulah kawan, segarnya udara
kebebasan dan pertualangan ini, kau tak akan dapat menghirupnya sebelum kau
memutuskan untuk memilih hidupmu sendiri, menikmatinya, mensyukurinya dan
menjalaninya dengan cinta. Dan kehidupan
ini baru akan kau miliki bila kamu memutuskan untuk menjalani jalan mu sendiri.
ingat jalan mu sendiri.
Masihkah anda memuji indonesia?
![]() |
| salah satu keindahan indonesia |
Begitu juga dengan segala permasalahan bangsa yang saat ini tengah
menjadi sorotan public. Baik dari segi pemerintahan, tata Negara,
perekonomiannya, sampai kepermasalahan pendidikan. Kecendrungan untuk
mengomentari adalah salah satu bentuk rasa kritis seseorang untuk melihat fakta
dari sudut pandang yang berbeda, dan bahkan menunjukan tingkat analis, dan keahlian
seseorang, karena semakin seseorang mampu mengungkap fakta di balik realita
yang ia lihat dan ia dengar maka sudah tentu hal itu mencerminkan semakin tajam
daya analisis dan cara berfikirnya.
Di Negara ini, Negara Indonesia sudah tak jarang lagi kita baca maupun
dengar pendapat ataupun komentar yang beragam, baik tentang kebijakan
pemerintah, maupun komentar dari segi dunia dan bidang lainya. Bahkan tidak
hanya pada hal hal yang benar benar serius melainkan pada hal hal yang kurang
maupun tidak serius sekalipun selalu ada komentar. Tidak salah bilang ada yang
bilang Negara kita sebagai republic komentator.
Sebuah Negara yang senang berkomentar, bangsa yang tak puas-puasnya
berpendapat, selalu saja ada komentar dibalik tindakan dan peristiwa yang
terjadi, mulai dari kedai kopi sampai layar kaya. Hampir tidak pernah sepi dari
para komentator.
Anda masih ingat dengan salah satu
berita ter hot untuk di shoot tahun ini? kebijakan dalam dunia penidikan yang
lagi heboh hebohnya dengan masalah perubahan kurikulum, pergantian kurikulum
KTSP menjadi kurikulum 2013, kemudian pencabutan status sekolah RSBI/SBI di
tanah air. baru saja keputusan itu
terdengar sudah banyak yang membicarakan nya, dengan segala macam pendapat dan
opini yang mereka kemukakan. Tidak hanya itu, kebanyakan dari mereka yang
berkomentar doyanya membiacarakan sisi negatifnya saja. Hujatan, gugatan, kritikan,
dan ketidak senangan di gumbar gambir di media massa. Terkadang setelah saya
konsumsi semua itu, cukup ampuh membuat saya tambah ruwet dengan kondisi bangsa
ini. lantas pertanyaan nya, dapatkah itusemua menyelesaikan permasalahan yang
tengah mendera ibu pertiwi? Bila hanya sekedar berkomentar saja, saya pikir itu
belum cukup, bahkan hanya akan menambah masalah saja.
Tidak ada yang salah memang dengan kebiasaan tersebut, dan saya bukan
pada posisi sebagai juri untuk menentukan ini salah dan benar. Ada yang
mengartikan kebiasaan ini adalah bentukdari implementasian demokrasi di Negara
ini, semua orang berhak berbicara, semua orang berhak berpendapat dan memang
begitu adanya. Akan tetapi ada satu kecendrungan yang mungkin secara tidak
lansung ikut tumbuh dari kebiasaan tersebut. Satu kecendrungan yang malah tidak
lagi sebatas memberi cara pandang yang berbeda saja terhadap Negara Indonesia
dan segala kebijakan pemerintahan nya. Melainkan menimbulkan emosi “ketidak
puasan” terhadap bangsa sendiri.
Segala komentar yang kurang baik dan segala bentuk cara pandang yang
cendrung menilai kegagalan serta cara pandang yang berdasarkan dari sudut
merah(negative) bangsa ini secara tidak lansung malah melunturkan rasa cinta
tanah air bagi generasi mudanya. Seiring berkecamuknya segala macam opini
public yang mengecam tanpa memberikan solusi yang jelas serta menjadikan
kegagalan pemerintahan sebagai topic utama pembahasan di beberapa pertemuan
ilmiah tenyata tidak membawa dampak kearah yang lebih baik. melainkan justru
menimbulkan antipati terhadap bangsa sendiri, bahkan ada kecendrungan utnuk
negative thinking terhadap bangsa sendiri.
Beberapa opini yang coba saya baca dan lakukan analisa dalam menanggapi
satu wacana baru. Dari salah satu blog terkenal on line di tanah air adalah
lebih mengedepankan paradigma negative dari pada membangun emosi positif
pembaca.
Akibatnya bacaan bacaan tersebut melaihkan ion ion kekecewaan terhadap
wajah bumi pertiwi ini. saya mengerti
mengapa pemberitaan tentang kasus kasus dan kebobrokan begitu lezat untuk
disantap public? Salah satunya adalah rasa bosan dengan pencitraan pemerintah
akan kinerja yang tidak sesuai dengan realita. Namun tindakan over dosis dan
perang wacana media masa untuk saling menjatuhkan lawan politik, melalui aksi
saling serang guna membunuh karakter seseorang tokoh politik, dan tindakan
sejenisnya juga tidak sehat untuk pertumbuhan bangsa ini kedepan nya.
Secara psikologis, pelabelan terhadap seseorang atau sesuatu, akan
membentuk paradigma yang sama dalam diri individu tersebut yang kemudian
menjadikan ia bertindak dan berperilaku seperti yang dilabelkan, oleh karena
itu melabeli anak dengan label negative adalah salah satu bentuk tindakan yang
tidak sehat. Begitu pula pelabelan terhadap bangsa ini, saat media tak tertarik
lagi mengungkap kehijauan bumi pertiwi dan segala keemasan nya, maka
terbentuklah opini public untuk mengecap bangsa kita menjadi seperti yang di
beritakan. Padahal saat media mengangkat
pemberitaan buruk tentang bangsa ini, bukan berarti bangsa kita miskin akan prestasi
dan nilai-nilai luhur, hanya saja realita itu tak di suguhkan untuk kita santap
setiap harinya.
Disinilah letak besarnya pengaruh media massa, yaitu mampu memetakan
opini public dan mengaturnya. Namun sebagai menikmat hidangan peberitaan kita
mesti cerdas, bahwa pemberitaan media cukup dijadikan sebagai informasi semata,
tidak lantas membuat kita ikut mengecam diri sendiri dengan semua stigma
negative media massa tersebut. Karena
pada dasarnya setiap elemen memiliki sisi positif dan kurang nya, termasuk
bangsa kita dengan segala segi dan sisinya. Give your appreciation for your nation. Apapun yang terjadi jangan
sampai kehilangan cinta untuk Indonesia.
TUGAS INI MEMBUNUHKU
Sudah
dua minggu keberadaan ku di kampung ini, Serdang Kuring, kampung yang di huni oleh masyarakat transmigran dari
Jawa. Keseharian ku di Lampung tidak ditemani oleh nuansa Sumatera melainkan Jawa.
Entah apa
yang terbesit dipikiran mereka, yang jelas kampung ini dan seluruh
masyarakatnya begitu terbuka dan ramah menyambut kedatangan ku di tengah tengah
mereka. Banyak memang yang ku dapat disini, khusunya ilmu tentang kemasyarakatan,
bila teman teman yang di perguruan tinggi mempelajarinya lewat buku dan dosen
dosen mereka ahli sosiologi, aku mendapatkannya langsung dari sumber data itu
sendiri, yaitu masyarakat.
Berbaur dan
bargabung sebagai orang baru di sebuah kampung bukanlah hal yang mudah
ternyata, tidak seperti kehidupan ku sebelumnya, berbalut dengan keacuhan dan rasa
tak mau peduli dengan lingkungan luar, yang jelas bagi ku hanyalah aku,
keluargaku, kamarku paling jauh tetangga depan rumahku. Sementara tak pernah
terpikirkan untuk menjadi dan melebur dengan masyarakat sepenuhnya.
Akan tetapi
di kampung ini, aku seperti terperangah, dan seringkali harus membunuh
keangkuhan dan kesenangan ku di kamar demi sebuah tugas dan tanggung jawab
sebagai fasilitator masyarakat.
Kampung Serdang
Kuring adalah salah satu tempat aku menuntut ilmu tersebut, memang tidak
tanggung tanggung, semenjak sah menjadi
guru delegasi Dompet dhuafa di kampung ini, aku mencoba membantai kesenangan
dan keegoan ku yang dulu begitu bersemi. “Tak ada lagi aku yang dulu,” ungkap
hati ku. Ketidak senangan ku berbasa basi sekarang manjadi hal yang harus ku
gemari, suka tidak suka harus suka, bisa tidak bisa harus bisa, begitulah
tekadku. Ya, memang menurutku harus begitu.
Hari itu
satu minggu aku menginap di kampung ini setelah di antar lansung oleh rombongan
Dompet dhuafa. Mulailai perang batin itu, seorang anak rumahan yang lumayan
acuh di kampung asalnya, merantau ke kampung Jawa yang ada di Lampung. Hari demi
hari ku jalani dengan kegelisahan, setiap malam tepikir terus apa yang harus ku
lakukan untuk memperkenalkan diri ini yang baru bermukim di kampung?, apa daya
pengalaman bersosialisasi ternyata belum begitu matang.
Congkakku dahulu semasa kuliah ternyata
sekarang terbayar dengan tugas-tugas sebagai fasilitator masyarakarat, peran
dan tugas ini menuntut aku untuk bisa bermasyarakat dengan hebat, Kikuk sekali
kaki ini saat akan melangkahkan ke teras rumah tetangga, setiap kali ingin
keluar, selalu ada pertanyaan di hati, jangan-jangan tetangga lagi sibuk dan tidak
mau ku ganggu, atau apa ya yang harus ku katakan saat kerumah mereka?. “Aduhh jangan-
jangan mereka malah mencuekan kun nanti, hahhh,, berat nih,.” Sebaliknya sebelah
hati ini berkata “ gimana to va,, kamu itu sekarang adalah seorang fasilitator,
kamu harus memperkenalkan diri kemasyarakat, ayo manfaatkan waktu luang mu
untuk sedapat mungkin berkenalan dengan mereka, sekarang mereka adalah orang
yang akan menentukan sukses tidaknya program-program mu...”Halahh,, benar benar
perang batin dibuatnya.
Disini juga
aku berusaha mencintai dan mencari cara untuk mencintai pekerjaan ini, dengan
harapan akan tumbuh pula cinta ku kepada setiap hal dan kondisi masyarakat yang
ku temui, aku akan berusaha tidak memperdulikan kesenangan diri ini, aku mengikut
sertakan diri berbaur dengan ibuibu di kampung, dalam kegiatan muslimatan,
masak masak dan pengajian yang cukup rutin dijalani. walaupun kegiatan mereka
bukan kegemaran ku, demi tugas ini akan ku cintai mereka. Bagiku Ini adalah
satu pembelajaran yang luar biasa, bahwa
bermasyarakat itu penting, dan lewat masyarakatlah kita semakin cepat
memahami konsep kedewasaan. Dan kunyatakan tugas sebagi fasilitator ummat ini,
telah membunuhku, membunuh aku yang dulu acuh.
kartini dari pelosok negeri
“Siang
berganti malam dan malam bersambung dengan siang, aku tak henti hentinya nandur
ndok, balik nandur dari satu sawah kesawah orang lain ku lakukan, semua itu
demi anak ku mas Ribut. Anak kedua ku yang sangat ingin sekolah dan memang ia
anak yang berprestasi di sekolah nya”.
“Nasibnya
berbeda dengan kakaknya, uang dan simpanan mamak habis untuk memenuhi biaya
pendidikan untuk memasuki kepolisian, tetapi apa dikata nasib berkata lain
usaha keras ia untuk lulus ke kepolisian saat itu harus mundur karena tak ada
biaya. meskipun demikian untuk membiayai ia mengkuti tes kepolisian dan lainya
mamak sudah menjual segala harta benda keluarga kami yang juga tidak banyak,
kebun karet dan sawah kami jual demi memenuhi cita cita putra pertama ku dan
selebihnya aku hanya mengandalakan nama baik ini untuk meminjam ketetangga
sebelah rumah, berlandaskan nama baik semata aku mencoba berkeliling kampung
bekerja sepanjang hari semasa aku sehat dulu. kami sudah tidak memiliki apa-apa dan sekolah
untuk anak-anaku adalah harta yang menjadi harapan ku dan suami”.
Begitulah penuturan Mak Uki, wanita
paruh baya itu menceritakan kepedihan dan segala ujian hidup yang ia lakoni
semasa menyekolahkan anak anaknya. Berita akan prestasi anaknya yang mendulang
juara di sekolah dan saat itu diterima disekolah favorite Palembang, membuat Mak
Uki begitu gembira, tak tega ia patahkan kemauan anaknya untuk terus bersekolah
hanya karena tidak punya uang. Bagi Mak Uki uang bisa dicari, tapi pendidikan
anaknya adalah utama. Kami bukan keluarga kaya, dan memiliki 4 orang anak.
untuk menyekolahkan mereka Mak Uki berusaha sekuat tenaga membanting tulang di
kebun orang. Setiap hari ia berangkat menuju kebun.
Jam 6 pagi dan kembali jam 8 malam, begitu
setiap hari. “Rasanya otak ku benar benar
berputar ndok,,mencarikan uang tiga ratus ribu rupiah setiap minggunya buat
anak ku sekolah, lawong aku cuma buruh tani ,nggak punya apa-apa, letih dan segala usaha harus ku lakukan demi
sekolah putra ku itu”. Mak Uki seperti kembali kemasa masa itu, saat
mengenang derita dan perjuangannya ketika menyekolahkan anak-anaknya. Uang itu
ia pinjam dari tetangga sekitar rumah, sementara untuk menggantinya dibayar
dengan bekerja tanpa digaji lagi di kebun tetangga tersebut. Bertahun-tahun Mak
Uki berlumuran utang berpindah dari satu kebun ke kebun lain sepanjang hari,
dari pagi sampai malam. Alhasil putra
tersayang akhirnya menyelesaikan sekolah di SLTA.
***
Masa depan yang
tertunda
Hari itu adalah hari kelulusan Ribut di
UNILA, universitas favorite di Lampung, bagi siswa SLTA sekitar lampung dan
Palembang, masuk dan mendapatkan bangku
di UNILA adalah satu kebanggaan, karena harus mampu mengalahkan ratusan bahkan ribuan
pesaing.
Dan Ribut putra kedua Mak Uki, membuktikan
kemampuan nya itu. kabar gembira itu pula ikut dirayakan teman teman mas Ribut,
mereka datang dan memberikan selamat kepada sahabat mereka yang beruntung saat
itu. Malangnya kabar itu ibarat petir disiang hari bagi Mak Uki, ia tak tau
harus bagaimana menghadapi kegembiraan putra kesayangan, mas Ribut.
Kembali ia kepalkan tangan dan kekuatan dirinya,
hatinya bergetar memikirkan uang masuk mas Ribut ke UNILA, tak ada lagi yang
bisa digadaikan, semua terjual dan telah habis untuk membiayai anak pertamanya
dulu, satu satu harapan adalah janji mas Wawan, putra pertama Mak Uki yang
berjanji akan membiayai pendidikan adiknya sebagai ganti dari pengorbannan
ibunda yang telah habis habisan untuknya.
Malangnya, saat ini putra pertama Mak
Uki dalam keadaan yang sulit, ia tak sanggup membiayai adiknya memasuki UNILA.
Semua harapan Mak Uki hancur berkeping,tak ada kata kata lagi yang mampu ia
ucapkan, semua badan nya terasa lemas, Mak Uki akhirnya jatuh sakit, berita
gembira itu berganti kabar duka, keadaan Mak Uki drop dan mas Ribut pun harus
ikhlas menerima realita untuk tidak melanjutkan kuliah.
Mimpi terkadang memang tak seindah
kenyataan, berapa bulan setelah itu Mak Uki kembali sembuh, ia tak tega melihat
anaknya yang stress menerima kenyataan itu. Akhirnya Mak Uki mengusahakan
anaknya untuk masuk kesalah satu program pelatihan computer selama satu tahun.
Ia berharap walaupun batal menyandang gelar s1, pendidikan ini akan tetap bisa
menjadi bekal bagi anaknya memasuki lapangan kerja nantinya.
Begitu majunya pemikiran wanita ini, berbekal pendidikan
ditingkat SD dan hidup di pedalaman ternyata tidak menghambat pandangan nya
terhadap dunia luar. Aku hanya bisa menatap Mak Uki dengan tatapan kekaguman. Cinta
nya sebagai seorang ibu dan kekuatan hatinya menjalani semua kesulitan keluarga
serta perjuangan nya memperjuangkan cita cita anak-anaknya membuatku berdecak
kagum, luar biasa.
Cerita memang tak hanya berhenti disitu saja, pernah
satu hari Mak Uki pingsan di tengah ladang yang luasnya 1 hektar, milik seorang
petani makmur di desa itu dan Mak Uki bekerja seharian disana untuk menyirami
tanah perkebunan nan luas itu dengan racun hama. Tiba tiba saja badan dan
kepalanya terasa begitu berat, Mak Uki tergelepar keracunan di tengah luasnya
kebun tersebut. Beruntung kejadian itu di ketahui oleh orang yang kebetulan
tengah bekerja di ladang. Mak Uki di larikan kerumah sakit, ia dinyatakan
keracunan. Barangkali menyemproti hama tanaman yang begitu luas membuat Mak Uki
menghirup zat mematikan itu terlalu banyak, akibatnya ia pingsan, beruntung
sekali nyawa Mak Uki masih tertolong. Lagi lagi aku berdecak kagum, hebat.
Waktu berjalan, putra kedua Mak Uki akhirnya
menyelesaikan perkuliahan nya, keinginan putranya tersebut didukung penuh oleh Mak
Uki dengan seluruh tenaga. Mas Ribut berhasil menyelesaikan wisudanya sebagai
sarjana desain grafis. Melihat prestasi dan kesungguhan nya, akhirnya mas Ribut
di biayai oleh sebuah perusahaan konsultan, untuk melanjutkan study untuk
kemudian bekerja kembali di perusahaan tersebut. Pejuangan pahit Mak Uki yang
kerap kali bermain dengan maut berganti sumbringah senyum dan kepuasan melihat
anak kesayangan nya itu mengenakan toga kebesaran.
Perjalanan hidup Mak Uki, benar benar membuatku
terkesima, ternyata keterbatasan dan kesulitan bahkan tidak adanya harta benda,
dan biaya tak menghentikan langkahnya memperjuangkan pendidikan
anak-anaknya. Bagi ku Mak Uki, seperti
kartini dari Serdang Kuring. Wanita yang tak bisa diam dengan keterbatasan, dan
mencoba mendongkak kesombongan dunia dengan perjuanganya.
Langganan:
Postingan (Atom)
